Rabu, 18 Mei 2011

Jengjeng tak seperti biasa

Diposkan oleh Pipit di 09.05
Malam melintang dan Jengjeng berdiri di atas tebing menunggu pagi, menoleh sekilas, melihat Kebo terlelap diharibaan gelap bertuan. Ada suatu detak yang membuatnya merasa ternganga, tanpa katup, Jengjeng merasa ia telah kehilangan sesuatu yang tertanam lekat.

Udara malam mengguncang seluruh persendian, ada rasa yang tak mudah didefinisikan. Sesuatu yang menyedot seluruh darah, lunglai, tidak bertujuan. Jengjeng menelan ludah, berat. Tidak seharusnya ia merasa hal yang bahkan ia tak mengerti mengapa harus merasa. Kali ini ia sendu.
Kesedihan memancar lebih karena ia tidak mengetahui apa yang sedang ia rasakan.



Jengjeng mematung hening, melemparkan pandangan di ujung langit.

“kau terlihat tidak biasa Jeng”. Suara tiba-tiba. Jengjeng menoleh arah suara.

“hah, ku kira kau sudah mengebo, bo”. Jengjeng menyambut.

“jah, seperti baru kemarin saja kau mengenalku jeng” kebo menyeringai. “ada apa Jeng, apa yang kau pikirkan?”.

Malam menyempurnakan kemelut, dalam hening berselimut.

“bo…” jengjeng berucap tanpa memandang Kebo, ia masih terpaku pada langit yang ia tuju.
“apa di balik itu…” Jengjeng menunjuk langit.

Kebo melihat titik yang Jengjeng tunjuk, ia terdiam beberapa saat, menarik nafas, dan memandang Jengjeng yang sekalipun kebo hanya melihat punggung Jengjeng dalam malam, ia tahu, ada buliran yang tertahan.

“di balik bintang?” Kebo bersuara.


Tak ada jawaban.


“hm, mari kita lihat Jeng” masih sunyi. Kebo memandang langit. Kemudian mengatup mata. Lama.

Jengjeng tidak seperti biasa, ia menunggu Kebo.
.n.a.n.o.
.d.e.m.i.
.n.a.n.o.

“aku. melihat. sesuatu. berkilauan. bukan bintang. lebih dari itu. seperti ruang tak bernyawa tertata. Selanjutnya, di luar jangkauanku”.

Kebo membuka mata, melihat langit, lantas tersenyum.

“bo…” menggantung.

Kebo hanya membiarkan Jengjeng menata detiknya.

“aku. melihat. hitam.”



Detik berhenti.



“mengapa di luasnya langit kau bisa melihat cahaya sedang aku hanya melihat kegelapan”.

Kebo membaca punggung Jengjeng, menghampiri, dan berdiri setara di sisi kanannya. Melihat Jengjeng di paling dekat dalam jangkauan malam, kebo merasa teriris, guratan wajah Jengjeng memang tidak seperti biasa. Seperti ia baru bertemu orang baru.

Kebo menarik nafas dalam. “Jeng, kau tidak seperti biasa”.


Hening.


Jengjeng tersenyum dan memandang kebo “kau hanya belum mengenalku, bo”.

Kebo tertahan.

“jadi, apa yang belum aku ketahui tentangmu Jeng? Kau tahu kita telah bersama, sejak kisah ini pertama ditulis”.

“aku bahkan tak ada pengetahuan mengapa karakterku tercipta, bo. Pernahkah kau membayangkan di kehidupan nyata, sesuatu bernama Jengjeng dan Kebo yang menggulung hari bersama?”.

“haha, kau pernah menanyakan hal ini jeng.” Kebo menarik nafas. “bagiku itu tak penting Jeng, siapa atau bahkan apapun kita, ada sesuatu yang menunggu kita, sekedar dijalankan atau bahkan berperan… Saat ini yang aku pedulikan, siapa sebenarnya kau. Episode sebelumnya kau begitu bersemangat dengan gambaran anganmu, setiap anganmu bersambut nyata. Dan kali ini kau bahkan terlihat tak bernyawa”.


Malam menggerus alam.


“Bo, aku hanya tiba-tiba merasa kosong. Aku ta paham siapa aku. untuk apa aku berdiri di tebing menunggu pagi. Kemana aku selanjutnya. Dimana aku kini. Semuanya seakan melumatku, dan aku bukan seorang perkasa yang mampu menumbun di sini” Jengjeng bergetar sambil menepuk dada.

“apa kau cemas dengan esok, Jeng?”.

“aku bahkan tak tau apa yang kurisaukan bo. Untuk semua pertanyaan, saat ini aku tak mengerti”.

Kebo memejamkan mata.

“jadi aku benar tak mengenalmu, Jeng. Sekalipun kita selalu bersama. Heh” Kebo tersenyum miris. “itu hal paling menyedihkan sejauh ini Jeng, aku bahkan tak mengenal jiwa yang selama ini bersamaku, menjelajahi hari”.

“aku sudah mengatakan padamu bo, sekalipun kita selalu berjalan beriringan, berbagi nilai, tapi kita bahkan saling tak memahami”.


Jengjeng dan Kebo membeku. Lidah mereka kelu. Tak ada kata, bahkan nafas tak mampu mengisi ruang malam.


“apa kau sedang ingin sendiri, Jeng?” Kebo mengeja hati-hati.

“tak bo, aku senang kau di sini sekalipun kita tidak saling mengenal, setidaknya kau bisa melihat cahaya”.

“apa kau mau bercerita, Jeng?”.

“bo, akan ada banyak persimpangan selama kita diperankan. Aku tak tahu kemana tinta mengarahkan goresan, aku hanya merasa tak ada petunjuk kemana aku harus meninggalkan jejak”.

“petunjuk? Mengapa kau membutuhkannya, Jeng?”.

“aku hanya merasa seolah tak ada tujuan. Jika Sun Go Kong, menuju ke barat mencari kitab suci, sedang aku, dimana aku mengarah?.

Kebo memetik pelatuk. Ia tersenyum simpul.

“kau hanya perlu berjalan kemana kau mau, Jeng”.

Jengjeng menyeringai, memandang Kebo takzim.

“kau tak perlu menemukan peta, lalu berjalan. Kau hanya perlu berjalan dan mengambil kebaikan dari sudut yang kau ambil”.

“mengapa tiba-tiba kau berkata tentang kebaikan, bo? Apa kebaikan, bagaimana mungkin aku mengambil kebaikan? Bagaimana aku tahu jika itu tujuanku?”.

“jika bukan kebaikan, apa yang kau inginkan. Apa yang kau inginkan hadir di dalam sini” kebo meunjuk dada kiri.


Jengjeng menarik nafas.


“kebaikan… bagaimana wujudnya. Heh” Jengjeng tertawa pucat. “bagaimana aku tahu jika itu baik, bo? Aku bahkan tak mengerti sedikitpun tentang kebaikan”.

“kau tak perlu mencari kemana-mana, Jeng. Kebaikan sebenarnya sangat dekat. Ia melekat. Di sisi dalam jiwamu”. Kebo menerawang malam. “kau menjumpainya setiap saat, di setiap kejadian, kau hanya perlu mengeja, menelanjangi, sesuatu bernama cahaya”.

“apa yang akan aku perbuat dengan kebaikan, mengapa aku harus menemukannya, aku masih tak mengerti ke mana arah pembicaraanmu bo”.

“kau mencari tujuan, Jeng? Kau tau kau akan memperlakukan hidup, setidaknya keberadaanmu, sesuai kau memperlakukan dirimu sendiri.
apa yang ingin kau lakukan untuk dirimu sendiri, kau tak ingin menyakiti diri sendiri bukan Jeng? Kau ingin bertemu bahagia?”.

“mungkin itu ujungnya, bo”.

“jika memang itu ujung yang kau inginkan, kau hanya perlu mencari cara menujunya”.

“dan kebaikan mengantarku pada bahagia, begitu bo?”.

Kebo memandang Jengjeng “jika itu kesimpulanmu”.

“entah karena malam atau melelahkan, aku bahkan tak bisa mencerna tantang sesuatu bernama kebaikan, aku hanya tak melihatnya”.

“kau bisa melihatnya, bahkan tanpa terang, Jeng. Yang kau butuhkan hanya merasanya?”.

“merasa? Bagaimana ia berasa? Apa rasa kebaikan”.

Kebo memandang lurus ke depan, menerawang di atas lampu bertebaran lereng.


“jika kau merasa ada buncahan, ingin tersenyum, tertawa, menangis haru, tak ada beban jiwa, tak ada sakit menyayat, berkorban tanpa berat… mungkin saat itulah kau bertemu kebaikan”.

0 komentar:

 

@aku_pipit Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea