Selasa, 15 Maret 2011

Kemudian Jengjeng... [II]

Diposkan oleh Pipit di 19.56
Selepas Jengjeng beranjak, tak lama ia menyadari sesuatu yang tidak seharusnya ia rasakan. Ia merasa kehilangan teramat dan belum pernah ia berdiri di celah kebimbangan antara melanjutkan pejalanan atau memutar balik hanya untuk memastikan bahwa keutuhan yang ia cari telah berserakan di jejak sekilas.

Jengjeng sengaja berhenti di titik tengah tanpa nama, ia menyebutnya 'tidak berpihak'. Dan awan yang mulai memancar.

Seketika, tanpa ragu akhirnya Jengjeng memutuskan hal krusial di hari dimana ia bertemu dengan 'kebetulan', ia memutar balik dan menelanjangi napak yang ia buat. Memastikan bahwa ia masih utuh dan tidak ada yang ketinggalan.



Tidak ada hal paling berat, selain kembali berjalan di jalan yang telah terlalui. Setidaknya bagi jengjeng, setidaknya setelah ia bertemu pohon pisang.

"Ahaaaaaa" Jengjeng berteriak dalam hening siang. Ia berbinar tanpa cela. Sesuatu membuncahkannya.
Jengjeng berlari, sekuat angin menjelma badai. Tanpa ia peduli pada jari kaki gemulai yang beradu dengan bongkahan kerikil, duri bahkan batu segede goa, karena halilintar telah membuat kaplir sandal jepitnya lemah gemulai alias pedot.

Jengjeng berlari, tepat di hadapan pohon pisang yang terkulai. Ia memandang mengeja, kemudian mulai berjalan perlahan, dengan mata yang kemudian memerah.

Inilah saatnya burung berkicau dan daun-daun berguguran.

"Keboooooooooo, aku menemkanmu"

Kebo memandang jengjeng dengan tatapan tanpa makna, tanpa binaran, tanpa...tanpa.
"oh plis deh jeng,segede aku...moso se ketinggalan ae. plissss...plissss"

"hadaaah bo,kebo...la emang,tadi tu adegannya drama beud,mana mungkin aku ga menjiwai,haaah"

"emboh jeng...yawsuda aku lapar jeng,bawalah aku sesukamu. pokok aku makan"

"iyadeh bo, kemanapun yes... ojo kakean protes. ta kempesin pisan tar"#krik

Jengjeng dan kebo kembali berjalan dalam buaian masa.

"btw jeng,apa yang membuatmu kembali berlari menjemputku"

jengjeng hanya menatap kebo dengan penuh mbletreng.

Di tengah jalan, tanpa ada unsur rekayasa, kebo melihat sebongkah durian bergelayutan di antara belantara jalan raya, ia tumbuh tepat di tengah jalanan.

"Jeng, taukah kau hal paling menakjubkan sepangjang hidupku" Kebo berhenti tiba2

Jengjeng terpaku, memandang kebo tanpa prasangka

"pastinya perjumpaan denganku bo. perjumpaan denganku adalah hal paling menakjubkan bagi hidupmu. aku tau itu. aku tau di sejak pertama kita bersama"

Kebo pucat pasi
"cuih....blassss jeng. tuluuuuuung"

Jengjeng manyun "lantas apa bo?"

"lihatlah di depanmu jeng"

"durian alias duren" jengjeng berucap datar "trus...kenapa bo?"

"apalagi yang kau liat?" tanya kebo mengulang

"hanya duren bo,sumpah. durian"

Kebo terdiam, kali ini ia mengambil posisi duduk dalam buaian bumi.
"berapa lama kau hidup jeng?"

"22? aku rasa 22 tahun bo. kenapa? apa yang ingin kau katakan"

"22...ah aku tak percaya... bahkan di umur yang sedemikian kau belum belajar hal mendasar tentang hal sederhana. hah, apa yang telah kau lakukan dengan hidupmu"

jengjeng mundur selagkah
"aku sungguh ga mengerti bo. kalo ga keberatan, sudikah kau menjelaskan kepadaku hal sederhana yang bahkan sampai sekarang aku belum memahaminya"

dziiiiiiingggg... kali ini angin bertiup landai, dan ombak-ombak bergoyang.
"sek,jeng...sejak kapan ada ombak di sebelah kita?"
"jiaaaah iyes juga, iki pasti seng gawe cerito seng nambah2i"
"haaaah..iyoooo pasti...oke anggep ae ga masalah"

dziiiiiiing kembali ke keheningan dunia kebo dan jengjeng
"kau tau jeng...aku hanya kadang ga mengerti tentang semua yang kualami. bertemu denganmu adalah suatu pertanda bahwa hidupku tak mungkin biasa..."
"kau bernama jengjeng,mana mungkin ada manusia mengenalmu...kau bahkan berbicara dengan utusan khayangan berupa pohon pisang yang kusaksikan dengan mata telanjangku. dan yang paling tak kumengerti, aku adalah seorang kebo, dan aku bisa berbicara" kebo menarik nafas panjang
"aaa....." "heeeh jeng ojo turuuu aku cerito ikii woooo..."

jengjeng kelabakan
"oh emsori bo,ceritamu sedikit melebar"

"taukah kau jeng,mana mungkin ada kehidupan seperti ini"

"maksudmu bo?"

"maksudku... aku akan mengeja untukkmu jeng. aku bahkan tak percaya bahwa semua ini terjadi secara nyata. mana mungkin semua ini berjalan dengan kendali"

Kali ini matahari mengibaskan cahaya terangnya, masuk lembut lewat celah daun yang bergelantungan di angkasa. tanpa ada angin kali ini. maaf. rodo ga isis.

"no bo,maafkan untuk megatakan ini. tapi aku tidak sependapat denganmu"

"eh?" kebo menyeringai

"kau tau bo, inilah yang mereka sebut hidup." Jengjeng berdiri membelakangi kebo.

"kau bisa menjadi apapun yang kau mau"

"kau hanya perlu membuang batasan kemungkinan.. semua mungkin jika kau menganggapnya demikian"

Jeda, ada jeda yang masih dimaklumi.

"k.e.b.o, hidup terlalu biasa jika kau menumpakan 'seharusnya' dalam tata hidupmu. kau tak perlu terkejut jika hal ajaib dapat muncul. bahkan secara tiba-tiba"

"kau tau bo, hidup ini ajaib. dan setiap kemungkinan bisa tumbuh kapan saja dan menjalar tanpa pernah kita duga"

Kebo mematung, ia memandang dalam. Mengambil nafas tanpa sela.
"begitukah...tapi jeng... tidakkah kau tau, sekalipun hidup ini ajaib... aku rasa ada baiknya ia memberi sedikit ruang untuk sekedar membuat setidaknya aku menyadari dan bahkan terkesima, sekalipun mungkin itu terlambat"

"sekalipun mungkin itu terlambat? apa yang kau maksud bo"

"terkadang dengan segala dan semua keterkejutan, hidup begitu saja terus bergulir, tanpa memberi kesempatan untuk tidak berputar. berhentilah sejenak, dan aku akan memahaminya dengan baik. aku rasa semua keajaiban ini terlalu cepat jeng. bahkan aku belum sempat berucap terima kasih atas beberapa kejadian"

"ah..apa yang kau harapkan jika kemudian ia beneran berhenti dan menantimu"

"aku....aku mungkin akan membuat keputusan tepat jeng"

"keputusan tepat..."
"hm,lantas mengapa kau menganggap waktu tak cukup memberimu ruang"

"aku hanya merasa, semua terlalu menakjubkan bagiku. dan waktu tak cukup membayar ketakjuban itu"

Jengjeng masih tak mengerti kemana semua akan bermuara
"apakah kau menyesal akan beberapa episode hidupmu bo?"

Kebo berdiri dengan perkasa.
"setidaknya demikian jeng. aku rasa keajaiban di bagian itu mengapa tidak dihilangkan, agar lebih mudah melewatinya"

Jengjeng tersenyum. Kali ini ia sedikit memahami
"dihilangkan? kau yakin bo? jika memang kemudian dihilangkan. apakah kau bisa menjamin bahwa kau bisa menjalaninya lebih baik?"

Kali ini kebo terdiam.

"boo..kau pasti lebih mengerti daripada aku.. aku rasa setiap jiwa punya keinginan bagaimana hidup seharusnya"
Jengjeng menarik 'pelatuk'
"kita semua tau, tidak ada yang lebih tau bagaimana kita semestinya kecuali setelah kita mengalami, bukan begitu bo?".
"aku rasa kita hanya perlu belajar dari semua yang tersedia. hidup.. siapa yang memegang semua ini. bukankah kita hanya berhak menjalaninya dengan baik".

Kebo menatap jengjeng, tajam setajam... #eaaa
"hm aku mengerti, mungkin iya jeng... aku rasa memang begitulah seharusnya" jeda "kita...kita memang seharusnya menjalaninya dengan baik."

"dengan baik jeng"

Kebo membisu beberapa nano.
"jeng....." kali ini angin bertiup.

"eh?"

Kebo mendatangi jengjeng perlahan dan dengan gempita.

"aku beneran lapar...kelaparan sungguh" kebo nyaris mewek
#jreeengg

Jengjeng memandang kebo penuh makna.
"kau tau apa yang kupikirkan, kan bo?" Jengjeng mengerlingkan mata ;)

"i know you so well, hahahahaha"

Kebo dan Jengjeng berlari, mereka berlari kencang, menuju satu titik bersama.

Duren. Pohon duren yang tumbuh di tengah jalan, dan tak membutuhkan waktu lama untuk sekedar memporakporandakannya penuh nista. hahahahaha :D~~

Jengjeng dan kebo tertawa bersama udara, ndlewer2 dengan comotan duren yang kelelean di sekitar mulut. mereka tertawa seolah dunia berputar sesuai jentikan jari mereka.

"hahahhahahaha..."
"hey, tapi bo...taukah kau...ngomong2 soal pembicaraan kita tadi. sepertinya kau belajar banyak dari semua keajaiban yang terjadi" Jengjeng memandang kebo dengan senyum terbaik yang pernah ada
"aku rasa kau melihat hidup lebih dalam, sekalipun kau menilainya dari sudutmu.... tapi itu hal luar biasa. setidaknya kau menganggap hidup sebagai bagian darimu"

Kebo memandang jengjeng yang masih berlumur duren dimana-mana..
"hmm, mungkin" jawabnya tanpa nada tapi berirama

Dan siang menjelang sore itu, adegan tertuju di tengah sudut. Di bawah pohon duren, jengjeng dan kebo tunduk dalam buaian.

[Wednesday, March 16, 2011 at 1:04am]

0 komentar:

 

@aku_pipit Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea